Negeriku Pancasila Bukan Pancasona

Negeriku diambang kehancuran, banyak otak bobrok tak karuan.
Semiotik publik dibuat rancu. Siapa dalangnya? Sebut saja manusia biadab.

Peradaban semakin maju, semua lumbung jadi informasi, tak peduli benar atau tidak, asal jatuh pada telinga manusia, bahkan binatang sekalipun.

Salah siapa? Aku pun di antaranya, tak mampu menjadi garda yang kokoh untuk negriku. Haha, tapi aku ini siapa. Aku juga kamu. Kamu juga Aku.

Manusia-manusia biadab di ujung fana, segeralah kau bertaubat, sebelum suara rakyat melaknat.

Oooohhhhh, tuhanku….
Dimana embrio-embrio pahlawan?
Dimana embrio-embrio cendekiawan?
Dimana embrio-embrio pemuda yang bung karno gaungkan?

Pesta rakyat berujung kesengsaraan umat,
Ratusan rakyat harus dirawat, ratusan nyawa harus melayang menjadi tumbal si biang kladi yang bergoyang.

Ohhh saudaraku, sebangsa dan setanah air. Negeri kita Pancasila bukan Negri Pancasona, jauhi ajakan perang, hentikan perselisihan, kita indonesia, kita wajib menjaga persatuan.

Oleh : Encep Suhendi, Street of Parliament Community.

Satu tanggapan untuk “Negeriku Pancasila Bukan Pancasona

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *