Ini Opini Amma Taqim Atas Perdebatan di Grup Indonesia Snakehead Club

Tulisan ini adalah murni opini saya pribadi, boleh sepakat atau tidak dan sama sekali tidak merepresentasikan pengurus Indonesia Snakehead Club.

Saya perhatikan akhir2 ini banyak sekali postingan tentang marulioides yang sebetulnya pembahasan diskusinya sangat seru sekali serta minat untuk orang2 berpartisipasi dalam diskusi tersebut sangat baik.

Ada pembahasan tentang perbedaan sentarum, kapuas dan sampit dan lain-lainnya
Ada juga pembahasan tentang manipulasi untuk penyesuaian parameter air dengan ketapang, jambu dan cuka.

Ada pembahasan tentang colour improvement menggunakan beberapa bahan pakan yang populer seperti udang sampai yang belum populer seperti kalajengking dan pellet khusus.
In my opinion ini menarik serta baik sekali.

namun, ada satu hal yang selalu luput dari nyaris semua pembahasan diskusi tersebut sehingga tidak pernah betul2 menyentuh hal yang paling esensial dari beberapa kasus di atas.

Yaitu tentang MENGAPA DAN APA PENYEBAB HAL ITU TERJADI.

Dalam hal ini akan saya bahas satu per satu.

Terjadinya perbedaan pattern antara marulioides satu dan lainnya.
Pelabelan dengan nama daerah memang baik sekali menurut saya pribadi dan ini sudah kita biasakan sejak sekitar 2016 an (silahkan cek postingan tahun tsb di grup ini).

Namun yang sangat saya sayangkan adalah diskusi tentang ini hanya berkutat pada perbedaan pattern nya saja yang mana itu adalah hasil dari sebuah proses panjang yang secara scientific dikenal sebagai CPV (colour and pattern variation) dan polymorphism yang mana disebabkan oleh banyak faktor yang akhirnya memaksa kita untuk mengetahui landscape habitat asli dari si ikan tersebut tanpa akhirnya memikirkan labelnya apa, namun esensinya dapet karena kita akan mampu mengakomodir kebutuhan ikan yang kita pelihara itu sendiri.

CPV dan polymorphism ini biasanya terjadi karena proses adaptasi untuk keselamatan atau bisa juga terjadi karena zat yang terkandung di habitatnya (sebagai faktor eksternal) yang mempengaruhi perubahan warna yang membuat dia mampu beradaptasi dengan habitatnya, kemudian ada faktor internal yang biasanya disebabkan oleh ketersediaan pakan yang ada yang mempengaruhi performa dari ikan tersebut karena perbedaan kandungan protein, astaxanthin serta lutein yang berbeda satu sama lainnya sehingga berpengaruh terhadap warna si ikan itu sendiri.

Ada beberapa faktor eksternal lain yang mempengaruhi ini seperti percepatan penggeseran kristal guanin yang dipengatuhi oleh beberapa kandungan pakan alami yang membuat kromatofor yang merupakan pigmen sel yang bisa mengembang dan mengerut karena pengerutan serabut otot yang melekat pada membran sel yang akhirnya membuat sisik mampu untuk merefleksikan gelombang cahaya yang diterimanya.

Kemampuan ini rata2 dimiliki oleh ikan yang memiliki tipe sisik sikloid yang mana jarang sekali dibahas.

Hal seperti ini malah jarang dibahas, karena satu dan lain hal saya menyayangkan perdebatan antara label ikan dengan berdasarkan pattern variation dan polymorphism yang akan terlalu mudah untuk miss karena selalu ada kemungkinan muncul morph berbeda dari ikan dari species yang sama yang disebabkan oleh perubahan radikal dari karakteristik alam yang banyak disebabkan oleh manusia.

Langka nya pembahasan substansial seperti ini membuat orang2 akhirnya saling menyalahkan rangkaian uji coba yang dilakukan oleh individu2 yang ada meski secara teoritis sebetulnya tepat dan membenarkan sesuatu yang sebetulnya kurang tepat hanya karena dasar ad hominem yang mana hal itu adalah sebuah logical fallacy.

Akhir kata, saya menaruh respect pada semua pihak yang sudah mau meramaikan dan berkontribusi pada perkembangan grup ini pada khususnya serta pengetahuan tentang snakehead pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *