Indonesia Butuh Sokrates!

Tentu, masih hangat dalam benak kita soal hotel yang menyediakan kotak saran, namun diisi uang oleh sebagian masyarakat karena dianggap sebagai kotak amal. Sebuah parodi kecil dari bangsa ini tetapi juga tragedi yang menampar setiap pipi kita yang pernah ikut tes IQ. Karena, setiap orang yang mengisikan uangnya ke dalam kotak itu sama sekali tidak membacanya. Pengakuan itu mengindikasikan bahwa terdapat definisi atas objek maupun subjek dalam sebagian benak orang Indonesia sehingga memunculkan rasa keingintahuan yang rendah yang kemudian membuat kita malas bertanya karena merasa tahu dengan apa yang kita jumpai.

Lewat peristiwa itu tidak heran kita melihat pun mendengar kejadian orang-orang yang menuduh dengan bingkai yang ada dalam kepalanya tanpa proses verifikasi dan identifikasi. Melihat orang Islam dengan celana cingkrang, gamis dan sorban atau menggunakanburqa atau jilbab panjang atau sejenisnya, langsung kita tuduh sebagai kelompok fanatis-teroris. Mendengar sebagian besar rombongan orang Kristen yang turun ke daerah yang tertimpa bencana atau daerah tertinggal guna melancarkan aksi sosial dianggap kristenisasi. Berpapasan dengan orang Cina di manapun langsung dituduh pengusaha, kaya dan arogan.

Ditambah lagi dengan pesatnya laju kembang ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong laju sebarnya tuduhan-tuduhan itu secara masif-sistematis tanpa cek dan ricek. Padahal, dengan internet seharusnya semakin memudahkan masyarakat dengan akses informasi dan pengetahuan. Namun, kenyataan internet malah makin membuat kita malas untuk membaca secara mendalam. Oleh karenanya, diskusi nonkritis malah subur akhir-akhir ini. Ketika media sosial mulai berkembang dari tahun 2000-an sampai sekarang, semangat komunal-kolektif yang bersifat maya mulai menubuh. Itu dapat kita lihat dalam Milis, grup di Facebook, grup di Whatsapp, dan grup di lini dan lain-lain.

Dari realitas media sosial ini kita dapat melihat bahwa sebagian masyarkat kita adalah masyarkat like, share dan amin. Karena, dalam komunalitas maya, sebagian masyarkat suka membagikan atau menyebarkan sebuah informasi yang sifatnya click bait tanpa membaca kontennya. Apalagi, jika link itu dibagikan oleh yang dia kenal atau kagumi maka tanpa membaca pun langsung dibagikan. Realitas itu menyibak semacam kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia dalam mengolah data dan teks yang kerap ditemui yaitu otoritatif, definitif dan generatif. Dibesarkan oleh narasi yang diwariskan atau dibagikan oleh seseorang atau komunitas yang terpercaya kemudian membentuk sebuah bingkai pemahaman dalam benak lalu menyamakan semua orang atau kenyataan yang ditemui dengan definisi. Sudah 70 tahun Indonesia merdeka, kebiasaan like, share dijamin masih mengjangkiti sebagian publik. Mungkin kita perlu sedikit pencerahan dan percayalah perubahan cara berpikir itu tak ada di atas kertas suara saat pemilu.

Masalah dibalik Like, Share dan Amin

Like, share dan amin adalah diksi yang lekat dengan kita yang terbiasa dengan media sosial. Istilah menjadi terkenal ketika banyak postingan bersifat agamis yang terkesan memberi berkah dan inspirasi kebaikan maka sukailah postingan ini serta bagikan sambil mengaminkan. Akhirnya, sikap menyukai dan membangikan postingan agamis menjadi otomatis dalam percakapan di media sosial. Uniknya, sikap otomatis ini juga terlakoni dalam macam-macam postingan bukan hanya yang agamis. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa masyarakat kita tidak memiliki budaya membaca dan mempertanyakan nilai, wacana dan ide atau apa pun yang menyekitarinya baik dalam sosial maupun media sosial.

Kita dapat melihat peringkat Indonesia dalam membaca berada pada nomor 60 dari 61 negara. Itu menandakan bahwa kemampuan bernalar dan literasi bangsa ini masih tertinggal jauh. Bagaimana kita dapat menyongsong Revolusi Industri 4.0 jika situasi intelektualitas bangsa ini masih terjun bebas? Secara tak sadar, data itu hendak menunjukkan bahwa bangsa ini masih asing dengan dunia intelektual akademik karena kemampuan bernalar dan berimajinasi masih menjadi barang langka. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila percakapan yang terjadi sehari-hari adalah percakapan yang lepas nalar lekat paradigma sahabat sehingga terhisap ke dalam kubangan polarisasi. Alhasil, yang terjadi dalam percakapan bukan diskursus yang objektif melainkan percakapan yang alogika sehingga masyarakat ini bergerak tanpa dialektika melainkan bergerak di tempat dengan komponen-komponen yang tak sinergis.

Budayakan Bertanya Sebelum Menyukai

Melihat situasi masyarakat yang minim membaca hari ini terdapat satu fondasi yang hilang sehingga melemahkan intelektualitas bangsa ini yaitu bertanya. Kita dapat melihat percakapan yang berlangsung dalam dunia nyata maupun maya budaya bertanya telah pudar yang langgeng adalah budaya jawab menjawab. Padahal bertanya merupakan fondasi utama dalam pemikiran kritis. Tanpa budaya bertanya maka dialektika berpikir itu hilang malah indoktrinasi yang terjadi. Rendahnya kebiasaan membaca menandakan bahwa kita bukan bangsa yang gemar mempertanyakan segala sesuatu atau memiliki rasa ingin tahu yang tinggi karena terbiasa diberikan jawaban dan kita yakini jawaban dari oknum yang kita hormati. Di sini kita dapat melihat bahwa pijakan berpikir bangsa kita adalah percaya kepada sesuatu yang ada di luar bukan mempertanyakan segala sesuatu yang ada. Karena, bertanya adalah jalan untuk mencari kebenaran itu.

Sokrates adalah seorang filsuf Yunani yang mengembangkan pemikiran kritis melalui pertanyaan yang berkelanjutan. Sokrates di dalam kelasnya tidak pernah memberikan jawaban kepada muridnya melainkan pertanyaan terus-menerus agar pemikiran krirtis dan logikanya bergulir. Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa bertanya yang berkelanjutan merupakan hal yang utama di dalam berpikir kritis agar dapat lahir perspektif yang rasional atau gagasan baru untuk membangun sebuah masyarakat. Tentu, pertanyaan yang dimaksud Sokrates adalah pertanyaan yang saling bertalian dengan topik bukan pertanyaan melantur di luar topik serta berbasis intelektualitas.

Coba kita bayangkan masyarakat yang memasukan uang ke dalam kotak saran itu jika bertanya dalam benaknya, “Ini kotak apa ya?”Lalu ada hasrat untuk membaca tulisan yang tertempel di kotak itu tanpa mendefinisikannya sendiri, kemungkinan kejadian memasukkan uang ke dalam kotak itu tidak akan terjadi. Dalam politik memungkinkan kita mempertanyakan sesuatu karena negara bertanggung jawab kepada masyarakat, bukan malah mempercayai negara atau para pejabat publik karena kita menganguminya dengan beragam moral yang disematkan. Negara atau pejabat publik bukan tuhan yang pasti benar dan baik, dia mungkin juga melakukan kesalahan dan bila didiamkan akan menuju kepada fatalisme. Andai kita terbiasa untuk mempertanyakan mungkin tidak ada “cebong”atau “kampret”, yang ada hanya warga negara.

Dengan demikian, tak heran bangsa ini masih terjebak pada otoritatif, generatif dan definitif akibat kurang biasa bertanya. Alhasil, kita butuh Sokrates agar bangsa ini tak terus anjlok intelektualitasnya.

Oleh: Robiatul Adawiyah (Ketua Cabang PMII Jakarta Timur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *