Hari Pendidikan Nasional, Apa Langkah Konkret Untuk Kemajuan SDM?

Pendidikan, siapa yang tidak mengenal kata ini. Dari sabang sampai merauke, dari Aceh sampai Papua warga indonesia tak terhingga jumlahnya yang mengemban pendidikan baik secara formal maupun tidak formal. Hari ini banyak yang merayakan momentum pendidikan yang telah dimaktubkan dalam kalender masehi bahwa tanggal dua mei adalah Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Berbicara Hari Pendidikan Nasional memastikan responsif kaum akademisi akan memperingati. Ya, meskipun banyak yang hanya seremonial semata. Wallahualam. Dalam kesempatan tersebut mengulas kembali sejarah indonesia yang telah dipelopori oleh salah satu tokoh yang berpengaruh di Nusantara. Namanya Ki Hajar Dewantara, Ia lahir pada tanggal 2 mei 1889 di Pakualaman dan tanggal lahirnya dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Singkatnya begitu.

Namun berbicara pendidikan konteks dari hilir sejarah, katakanlah peradaban hari ini banyak sekali yang tidak memantik perihal anggaran yang telah ditentukan oleh pemerintah, seperti kutipan dari ungkapan Muhadjir Effendy selaku menteri pendidikan dan kebudayaan pada saat membuka secara resmi International Symposium on Open, Distance and E-Learning (ISODEL) Tahun 2018 di Kuta Denpasar.

Untuk anggaran pendidikan 20% itu totalnya sekitar Rp 490 Triliun. 63% untuk daerah. Kemendikbud mengolah 27% yaitu Rp 35 triliun. Katanya dalam acara tersebut seperti yang ditulis di Kumparan. Artinya Sumber Daya Manusia (SDM) sudah jelas harus diperhatikan karena itu adalah tanggung jawab pemerintah. Perlu diketahui juga bahwa anggaran sudah didistribusikan ke daerah. Apa kabar pendidikan di daerahmu?

Jika melihat jumlah guru, ada sekitar tiga juta tujuh belas ribu di indonesia. Dengan demikian jika melihat jumlah guru yang cukup banyak berkontribusi artinya indonesia adalah negara yang bukan hanya kaya alamnya saja, melainkan juga kaya dalam segi ilmu pengetahuannya. Semoga saja. Amin. Namun jika melihat perkembangan teknologi berbasis digital boleh jadi dampaknya lebih banyak tidak baiknya. Wallahualam.

Dalam hal ini, jika melihat anggaran yang lumayan besar, penulis ingin mengajak diskusi pada pembaca, silahkan berikan catatan pada kolom komentar. Apakah Hari Pendidikan Nasional hanya akan mengundang anak didik update status di sosial media saja? Atau ada tidak langkah konkret yang semestinya dilakukan untuk memajukan SDM, setidak-tidaknya mendorong budaya literasi masif pada ruang pendidikan.

Kadang kala penulis berasumsi, seandainya Ki Hajar Dewantara masih ada mungkin saja ia akan menangis melihat pelajar masa kini yang telah banyak terkikis produktivitasnya oleh kemajuan tekologi. Misalnya banyak di antara kita yang sehari-harinya hanya sibuk bermain game, sibuk update status yang tidak begitu penting-penting amat dan masih banyak perilaku yang tidak sesuai dengan tut wuri handayani.

Encep Suhendi.

Satu tanggapan untuk “Hari Pendidikan Nasional, Apa Langkah Konkret Untuk Kemajuan SDM?

  • 02/05/2019 pada 11:20
    Permalink

    Guru yang memiliki posisi yang sangat penting dan strategi dalam pengembangan potensi yang dimiliki peserta didik. Pada diri gurulah kejayaan dan keselamatan masa depan bangsa dengan penanaman nilai-nilai dasar yang luhur sebagai cita-cita pendidikan nasional dengan membentuk kepribadian sejahtera lahir dan bathin, yang ditempuh melalui pendidikan agama dan pendidikan umum.
    Sedangkan untuk masa sekarang niat dari seorang guru sebagian berubah dari mengabdi menjadi mencari kepentingan, usaha mencari uang misalkan, banyak pula pengajar sebagai ajang mencari pengalaman (coba-coba) contohnya. kurangnya persiapan seorang pengajar juga mempengaruhi dalam ruang kelas, dan seorang pelajar jangan terlalu dimanjakan dengan undang-undang, harusnya UU lebih selektif lagi mana yang harus dilindungi dan mana yang tidak.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *